Selang 1 hari mengikuti
jadwal pelajaran yang sudah diberikan saya kembali ke sekolah, tanpa
diduga-duga ternyata semakin banyak siswa dan guru yang mengenal, padahal tidak
pernah berinteraksi langusung dengan mereka kecuali dengan guru pamong dan
murid-murid di kelas, sisanya hanya tegur sapa saja saat berpapasan di jalan
atau perpustakaan.
Ketika saya menunggu di
ruang TU, hampir setiap siswa yang melintas menyapa dengan menebut nama.
Guru-guru dengan ramahnya membalas salam dan sapaan saya ketika bertemu.
Waktu jam belajaran belum
tiba, beberapa siswa menghampiri meminta agar segera memasuki kelas, padahal
waktu istirahat belum saja selesai dan masih terhitung lama sebelum jam
pelajaran tiba.
Dihari kedua dikelas
bilingual, kali ini mereka sudah rapih dan siap untuk belajar. berbeda dengan
hari pertama dengan kelas yang tidak tertata dan beberapa masih berada di luar
kelas.
“Kak, sudah kami tunggu
dari tadi, tepat waktu sekali.” kata salah seorang murid menyeru.
“Iya, kaka juga sudah
nunggu didepan ga sabar juga buat ngajar kalian.” Sambil tertawa kecil saya
menjawab.
Kelas pun dimulai, seperti hari sebelumnya di kelas bilingual, semua
berjalan lancar tanpa mengerahkan tenaga yang cukup berat tapi serius. Namun, jam pelajaran yang sangat
kurang mendukung, siang hari, dimana rasa kantuk dan bosan sudah
merajarela, membuat siswa juga
kurang semangat mengikuti pelajaran. Mengkaitkan pelajaran dengan cerita menjadi hal yang
menarik, kebetulan pelajaran kali ini adalah teks narasi juga teks yang saya
sajikan bertemakan tentang kecerdasan seekor burung gagak, maka saya
berinisiatif untuk mengintegrasikan cerita gagak dengan kisah Habil dan Qobil
yang terdapat pada surat Al Maidah ayat 27-31 tentang anak cucu adam, dan sharing membuat suasana menjadi
lebih hangat walaupun tidak kondusif untuk belajar, setidaknya mereka bisa
senang. Sedikit-sedikit menjadi bukit.
Dihari kedua kelas
berbakat, cukup menegangkan, khawatir bagaimana nanti keadaan kelas. Mereka
mempunyai semangat tinggi juga antusias, butuh motifasi besar agar mereka bisa
konsentrasi belajar.
Seperti biasa menunggu didepan kelas, saya heran dengan kelas yang seperti
tidak ada kehidupan. Lalu saya coba mendekat dan menengok sedikit kedalam
kelas. Setelah saya dapati beberapa siswa yang sedang bergelombolan menonton
film di kelas, saya langusng salam dan meminta siswa untuk membereskan segala
sesuatu persiapan untuk belajar, walaupun waktu istirahat masih tersisa sekitar
10 menitan.
Akhirnya kelas dimulai,
walau kondisi belum cukup stabil seperti layaknya kelas: banyak yang masih lalu
lalang setelah mengganti pakaian mereka, ada yang masih makan, dll. Degan
metode yang berbeda, memperbanyak pengulangan, pengulangan dan pengulangan,
mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam pembelajaran sampai mereka dapat
menjawab pertanyaan dari meteri tersebut tanpa harus ada dorongan. Sampai
akhirnya waktu pelajaran habis dan dicukupkan.
Setelah keluar dari kelas
dan evaluasi bersama guru pamong, ada sedikit keritik dalam pengajaran yang
saya lakukan karna mengikuti metode yang sudah tidak dibenarkan dengan memengga
kata dan diikuti oleh siswa, seperti, “jadi yang pertama adalah orient…..tasi
(diikuti oleh siswa)”. Itu merupakan pengetahuan dan pembelajaran baru untuk
menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Sampai akhirnya saya
berpamitan kepada seluruh siswa, juga guru-guru disana. Banyak yang meminta
kembali dan menetap. Tapi apalah daya takdir yang menentukan.
Dari situasi lah saya
belajar, dari kritik dan saran saya termotivasi dan dari lingkunganlah saya berubah.
Comments
Post a Comment